Search

Hasil penelusuran

Sabtu, 25 Januari 2014

Mendengar atau Mendengarkan??

Mendengar, tentu sudah bisa kita lakukan tanpa mempelajarinya sekalipun (kecuali tunarungu). Bahkan, mau tidak mau, kita sebagai manusia yang dianugerahi sepasang telinga, harus mendengar suara-suara yang bahkan tidak enak didengar sekalipun. Tidak seperti mata yang bisa menutup ketika tidak ingin melihat, telinga tidak dapat menutup sendiri ketika tidak ingin mendengar. Perlu bantuan dari kedua tangan kita, atau alat-alat lain untuk menutupinya. Meski terkadang suara-suara tersebut masih dapat didengar.
Begitu istimewanya telinga yang kita miliki. Kita memiliki sepasang telinga, bukan hanya sebelah. Posisinya pun ada di sebelah kiri dan kanan kepala kita. Coba bayangkan bila ada di atas dan bawah kepala. Betapa sempurnanya ciptaan Allah Swt. ini yang patut kita syukuri. Fungsinya pun sangat istimewa. Faktanya, ketika ada seseorang yang tidak bisa mendengar (dibaca tunarungu) sejak lahir, maka dia tidak akan bisa berbicara (dibaca tunawicara) karena belum pernah mendengar bagaimana bunyi dari huruf-huruf.
Namun yang jadi pertanyaan, sudahkah kita mendengar dengan baik? Apakah yang biasa kita dengar adalah sesuatu yang baik pula? Sedangkan di akhirat nanti, dimana seluruh perbuatan kita akan diminta pertanggungjawabannya. Seluruh bagian tubuh kita akan bersaksi, digunakan untuk apa saja selama berada di dunia ini. Termasuk telinga kita, digunakan untuk mendengarkan apa saja? Apakah untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, ataukah gosip-gosip yang belum terbukti benar, bahkan hingga aib dari orang lainkah yang lebih sering kita dengar?
Namun saat ini, lebih banyak orang yang hanya mendengar saja, bukannya mendengarkan. Nah lho, apa bedanya mendengar dengan mendengarkan? Tentu berbeda. Bila dalam Bahasa Inggris dikenal dengan “hear” dan “listen”. Keduanya memiliki makna berbeda meski sering diartikan sama, yaitu “mendengar”. Hear adalah proses mendengar semua suara, bahkan hingga suara terkecilpun, dan terkadang kita sendiri tidak sadar mendengarnya. Contohnya, ketika seseorang sedang melamun dan ada temannya memanggil. Dia tidak menyaut karena sedang melamun, jadi tidak mendengarnya. Ah, masa sih tidak mendengar? Saya yakin kalau sebenarnya telinga orang itu mendengar panggilan temannya, namun karena sedang melamun dan tidak fokus, maka panggilan temannya itu hanya sampai di telinga, dan tidak sampai ke otak. Itulah hear alias mendengar. Lalu apa bedanya dengan listen atau mendengarkan?
Listen adalah proses mendengar terhadap satu bunyi atau suara. Jadi, yang didengar hanyalah sebuah suara. Contohnya, saya mendengarkan teman saya curhat. Yang saya dengarkan adalah suara teman saya yang sedang curhat, meskipun pada saat yang sama saya juga mendengar beberapa suara yang lain, namun yang saya dengarkan hanyalah suara teman saya. Agak rumit memang, namun sebenarnya sederhana. Lalu manakah yang lebih baik? Tentu tergantung kondisi. Ada beberapa kondisi dimana kita harus mendengarkan. Contohnya ketika sedang kegiatan perkuliahan atau dalam pengajian. Tentunya kita harus mendengarkan dosen atau Ustadz yang menyampaikan materi, bukan hanya mendengarnya saja. Namun ketika sedang dalam situasi yang relatif santai, ketika tidur contohnya, kita bisa dengan hanya mendengar saja tanpa mendengarkan suatu suara tertentu. Namun sayangnya, banyak orang lebih memilih mendengar daripada mendengarkan, tapi ingin didengarkan bukan hanya didengar.
Jadi, mana yang Anda pilih? Didengar atau didengarkan? Bila jawaban Anda “didengarkan”, maka mulailah dengan mendengarkan terlebih dahulu, maka insya Allah Andapun akan didengarkan.^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar